proses pendeteksian. Informasi yang diperoleh dari kulit
sangat relevan untuk proses pendeteksian antara lain
untuk proses-proses pendeteksian manusia, pendeteksian
wajah dan penjejakan wajah (face tracking), penjejakan
tangan yang meliputi pengenalan posisi tangan dan
gerakannya (gesture), pengontrolan robot dan aktivitas
interaksi manusia-komputer lainnya. Selain itu
keberadaan kulit dapat dijadikan informasi dasar untuk
proses penyaringan konten yang bersifat pornografis
pada internet serta berbagai aplikasi video (Vezhnevets,
2003).
Keuntungan yang dapat diperoleh jika kulit
dijadikan sebagai sumber awal informasi untuk prosesproses
yang disebutkan di atas antara lain adalah
memungkinkannya pemrosesan yang cepat dan
langsung, tahan (robust) terhadap variasi geometris daripola-pola/tekstur kulit, tahan terhadap halangan parsial
(partial occlusion), tahan terhadap perubahan resolusi
citra dan mengurangi kebergantungan pada penggunaan
peralatan penjejakan yang khusus. Selain itu karena kulit
memiliki karakteristik warna, maka hal ini memberikan
kemudahan lain karena warna adalah salah satu aspek
yang dengan cepat dan mudah dapat dikenali oleh
manusia.
Pada makalah ini akan disajikan paparan teknik-teknik
pemodelan matematika warna kulit dan modelmodel
warna yang dapat digunakan untuk pendeteksian
warna kulit. Eksperimen pendeteksian warna kulit
dilakukan pada ruang warna RGB menggunakan dua
model non-parametrik serta tiga kelompok basidata
wajah.
Warna merupakan karakteristik umum yang
mudah dikenali dan dimanfaatkan oleh manusia.
Karakteristik ini juga dapat dimanfaatkan oleh komputer
untuk proses yang sama. Warna direpresentasikan dalam
berbagai model warna yang telah dikembangkan,
diantaranya adalah RGB, Normalized RGB, HIS, HSV,
HSL, Fleck HSV, TSL, YCbCr, CIELAB, CIELUV,
YES, YUV, YIQ, dan CIE-xyz. Walaupun belum ada
model warna ideal yang mewakili secara sempurna
kemampuan manusia namun Sampai saat ini belum ada
model warna yang ideal, yang memiliki kemampuan dan
kesensitivitasan seperti sistem visual manusia yang pada
dasarnya sangat subyektif, perseptif dan variatif.
Beberapa model warna yang mendekati ideal adalah
model warna CIELAB dan CIELUV, dimana model
warna ini dikatakan sebagai perceptually uniform color
spaces. Untuk dapat menggunakan model warna ini ada
‘harga’ yang harus dibayar yaitu fungsi transformasi
yang kompleks sehingga membutuhkan sumber daya
komputasi yang lebih besar dibandingkan dengan ruang
warna yang lain. Penelitian yang dilakukan akan
menggunakan model warna yang walaupun tidak seideal
model warna CIELAB atau CIELUV, tetapi
memiliki kemampuan yang mendekati ideal dan
membutuhkan sumber daya komputasi yang memadai
yaitu warna RGB, Normalized RGB, HSV dan YCbCr.
Ruang warna RGB merupakan ruang warna
yang umum dan biasa digunakan untuk
merepresentasikan citra dijital. Ruang warna RGB
merupakan ruang warna yang bersifat additive dan
berkembang seiring dengan perkembangan peralatan
display CRT. Pada model warna RGB, warna diwakili
oleh komponen merah (Red), hijau (Green) dan biru
(Blue). Nilai setiap komponen diwakili oleh bilangan
bulat dengan interval 0 sampai dengan 255. Kombinasi
numeris dari elemen RGB akan menghasilkan lebih dari
16 juta warna.
Warna sebanyak ini tidak semuanya dapat ditangkap oleh sistem visi biologis manusia. Pada
Gambar 1 disajikan contoh tentang pemetaan 49 warna
ke dalam ruang warna RGB.

Dari Gambar 1 terlihat bahwa pemetaan warna
pada model warna RGB membutuhkan representasi tiga
dimensi dimana hal ini secara umum akan meningkatkan
kebutuhan sumber daya komputasi untuk
pemrosesannya. Untuk itu dikembangkan model warna
Normalized RGB. Pada model warna ini nilai R, G, dan
B dinormalkan dengan formula.
Dari formula dapat disimpulkan bahwa
pemodelan dapat direduksi
menjadi pemodelan 2 dimensi dimana nilai b dapat
digantikan dengan formulasi.
METODEMetode pemodelan distribusi warna kulit
dikelompokkan menjadi empat yaitu:
metode pendefinisian region kulit secara eksplist, pemodelan secara non-parametrik pemodelan parametrik dan pemodelan distribusi warna kulit secara dinamis (Hadiet.al., 2005). Pada makalah ini hanya dibahas
pemodelan secara parametrik dan non-parametrik. Pada pemodelan
secara non-parametrik, distribusi warna kulit
diperkirakan dari data pelatihan (training data) tanpa
secara eksplisit menurunkan model warna kulit. Teknikteknik
yang termasuk pada kelompok ini adalah teknik
Look Up Table atau Model Histogram dan teknik
klasifikasi dengan Bayesian Reasoning. Pemodelan
secara parametrik adalah sebuah pemodelan dimana dari
sekumpulan data pelatihan akan diturunkan sebuah
model parametrik yang menerima masukan (input) nilai parameter tertentu. Teknik yang termasuk dalam kelompok ini antara lain adalah teknik Gaussian.
HASIL DAN PEMBAHASANSeperti dijelaskan di atas pendeteksian kulit
berdasarkan warna kulit merupakan langkah awal untuk
proses pengenalan wajah. Proses pendeteksian dilakukan
dengan mengacu kepada model kulit yang dibuat seperti
dijelaskan sebelumnya. Secara umum teknik
pendeteksian kulit dapat dikelompokkan menjadi dua
yaitu (i) Berbasiskan Piksel dan (ii) Berbasiskan Region.
Teknik berbasiskan piksel mengklasifikasikan setiap
piksel berdasarkan dua kelas yaitu kulit dan bukan kulit
tanpa bergantung pada piksel-piksel disekitarnya. Teknik
kedua melihat pengaturan spasial dan piksel-piksel
wajah sebagai elemen pendukung untuk meningkatkan
kinerja pendeteksian. Pada metode ini diperlukan
pengetahuan tambahan, misalnya tentang tekstur wajah.
