A. Wayang VS Bioskop
Bagi masyarakat Jawa, kesenian Wayang nampaknya sudah tidak asing lagi. Wayang yang biasanya dari kulit binatang, rumput, atau kayu merupakan kesenian wajib bagi masyarakat Jawa.
Wayang bukan hanya sekedar tontonan tetapi juga tuntunan dalam kehidupan untuk mencapai kebahagiaan baik di dunia maupun di akherat dalam tingkat kesempurnaan abadi, sehingga tokoh-tokoh di pewayangan di identikkan dengan sifat-sifat manusia dan alam didalam kehidupan sehari-harinya.
Dalam cerita pewayangan banyak ditemukan falsafah-falsafah hidup dan sering dijadikan kajian ilmiah oleh peneliti-peneliti dan Mahasiswa-mahasiswa baik didalam maupun diluar negeri, belajar dan mendalami wayang di Indonesia.
Dunia mengakui wayang sebagai master piece (master perdamaian) karya budaya bangsa Indonesia yang mendapat predikat ” THE ORAL AND INTANGIBLE WORLD HERITAGE OF HUMANITY ” oleh PBB melalui UNESCO.
Jika dikaji secara cermat dan mendalam, semua cerita pewayangan mengandung makna filosufis yang sangat berarti bagi kehidupan manusia yaitu menunjukkan arah yang benar mengenai kebenaran yang hakiki.
Namun sekarang Wayang sebagai hiburan serasa mulai bergeser oleh adanya Bioskop. Yang lebih banyak menyuguhkan cerita – cerita yang bersifat fiksi. Dari cerita yang disuguhkan tersebut, lebih banyak memberikan khayalan belaka daripada memberi tuntunan kepada para pemirsanya
Tentu saja teknologi yang digunakan di bioskop sangat canggih bila dibandingkan dengan teknologi yang digunakan pada pertunjukan Wayang. Di bioskop kita melihat banyak efek-efek komputer untuk mendramatisir keadaan yang sebenarnya. Sedangkan pada pertunjukan Wayang masih menggunakan peralatan tradisional dan lebih menggunakan segala sesuatu yang telah ada, seperti sound system dan lampu sorot. Tentunya hal tersebut tidak mengurangi esensi dari pertunjukan Wayang itu sendiri
Di bioskop kita biasanya akan asyik menikmati film tersebut secara individu, tanpa peduli dengan orang – orang di sekitar kita. Namun berbeda saat menonton Wayang, pada saat itu semua kalangan berkumpul dan bercengkeram seolah-olah tanpa ada batasan diantara para penontonnya. Disitulah letak nilai sosialnya, dimana dari suatu tontonan akan merekatkan kerukunan para penontonnya.

B. Pasar Tradisional VS Supermarket
Sejak zaman dahulu keberadaan pasar memang mutlak diperlukan di suatu daerah. Pasar sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli serta masyarakat dengan berbagai kebutuhannya.
Pasar tradisional sendiri merupakan pasar yang menyediakan kebutuhan hidup sehari-hari tentunya dengan harga yang ”miring” untuk kalangan rumah tangga.
Permasalahan segera timbul tatkala supermarket sedikit demi sedikit mulai menggerus keberadaan pasar tradisional. Dengan kondisi dan suasana belanja yang lebih bersih, nyaman, serta segala yang diperlukan ada di sana, membuat orang cenderung untuk meninggalkan pasar tradisional. Di sisi lain, makin lama barang – barang yang diperjualbelikan di supermarket dan pasar tradisional pun hampir mirip. Bahkan harganya pun cenderung bersaing dengan pedagang di pasar tradisional. Dan bahkan pada beberapa kasus harga di supermarket jauh lebih murah.
Selain itu teknologi di supermarket pun juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para konsumen. Seperti penggunaan barcode untuk mengetahui harga barang dan kemudahan pembayaran melalui kartu kredit maupun kartu debet. Sehingga proses pembayaran berlangsung cepat dan mudah. Sedangkan di pasar tradisional semua teknologi yang digunakan masih berbasis ”manual”. Semua berdasarkan pada pelayanan dari si penjual pasar tradisional.
Namun demikian, dengan berbagai kelebihan yang dimiliki oleh supermarket. Tetap saja ada suatu ”nilai lebih” dari pasar tradisional yang tidak bisa dimiliki oleh supermarket. Yaitu hubungan interpersonal antara pengunjung dan penghuni pasar. Hubungan antara keduanya tidak hanya sekedar penjual dan pembeli. Namun lebih ke arah dua individu yang saling membutuhkan. Sehingga tercipta rasa saling menghargai dan menghormati. Serta senyuman yang diberikan dari keduanya pun benar – benar tulus, tanpa ada paksaan maupun atas dasar tuntutan pekerjaan.
Berbeda dengan pasar tradisional, di supermarket para pengunjung pun hanya bisa memilih barang dan membeli. Tidak ada sesuatu yang ”lebih” dari proses tersebut. Sehingga dapat dikatakan ” Buy It and Leave It”.
