Selasa, 30 Maret 2010

Gayus oh Gayus

Gayus Tambunan : Suatu kepercayaan yang disalahgunakan


Akhir-akhir ini media gencar memberitakan tentang sebuah nama yang ramai dibicarakan public. Dialah Gayus H.P. Tambunan, seorang pegawai kantor pajak golongan III A yang memiliki saldo sebesar Rp25 M di rekeningnya. Suatu hal yang sangat mustahil bagi pegawai negeri sipil (PNS), yang gajinya “hanya” Rp 12 juta per bulan. Bagaimana seorang PNS golongan IIIA tersebut dapat mengumpulkan Rp 25 M ? Mengingat usianya masih berumur 30 tahunan.
Banyak muncul perdebatan publik mengenai darimana asal dana tersebut. Apakah mungkin dari warisan orang tua Gayus? Tentu tidak, melihat kondisi rumah yang ditempati oleh orang tua Gayus. Karena kondisi fisik dari rumah tersebut masih jauh dari disebut layak. Cat rumahnya sudah terkelupas, sehingga tidak jelas apa warna rumah yang sebenarnya. Pintunya yang dari kayu triplek pun juga demikian, sangat jelas menunjukkan kondisi keluarga yang dapat dibilang biasa saja.
Dugaan sementara dari banyak pihak mengatakan bahwa Gayus menerima suap dari para pengusaha pengemplang pajak yang menginginkan agar dapat membayar pajak dalam jumlah yang minim. Hingga saat ini para penegak hukum masih memburu Gayus yang kabarnya masih berada di Singapura.untuk menjalani pengobatan.
Sebenarnya jika mau dibandingkan dengan aliran dana yang hilang dari kasus Century, jumlah yang dibawa Gayus “belum” berarti apa-apa. Tetapi dampak yang ditimbulkan dari peristiwa tersebut sungguh luar biasa. Dari berbagai forum yang saya ikuti perkembangannya di internet, banyak para wajib pajak yang mulai merasa kehilangan kepercayaannya terhadap institusi pajak. Para wajib pajak merasa sia-sia saja untuk membayar pajak jika pada akhirnya pajak yang mereka bayarkan ternyata hanya masuk ke kantong-kantong yang tiada jelas pemanfaatannya. Sampai-sampai para wajib pajak mengira semua pegawai pajak adalah mafia. Hingga akhirnya muncul berbagai account Facebook yang menyatakan tidak semua pegawai pajak sama seperti Gayus. Dan langkah tersebut juga didukung oleh banyak pegawai pajak yang merasa dirugikan.
Pajak yang kabarnya merupakan salah satu pemasukan terbesar negara ternyata disalahgunakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Dan pada akhirnya, kembali lagi rakyat kalangan bawah yang menjadi korban utamanya. Sedangkan untuk mengembalikan suatu kepercayaan yang telah didapat tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan usaha yang keras selama bertahun-tahun untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam membayar pajak serta pemanfaatannya dalam pembangunan Indonesia. Jika pada akhirnya kepercayaan yang diberikan tersebut disalahgunakan untuk kepentingan pribadi semata.
Melihat dari kasus tersebut, sebenarnya tidak ada yang patut disalahkan. Karena kesalahan yang sebenarnya tidak hanya menjadi tanggung jawab Gayus semata. Tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh institusi yang berkaitan. Tidak mungkin Gayus akan berbuat demikian jika tidak ada kesempatan serta situasi yang mendukung. Dan ternyata situasi pun berkata demikian, banyak diantara para Jenderal di Dirjen POLRI yang juga turut disebut-sebut dalam kasus penggelapan pajak oleh Gayus.
Walaupun Gayus telah tertangkap di Singapura beberapa waktu lalu, hal tersebut masih dirasa kurang sreg bagi para wajib pajak tentang terberantasnya mafia pajak. Karena banyak pihak sepakat bahwa Gayus hanya sebuah wayangnya sedangkan dalangnya masih ada di atas sana.
Lalu bagaimana mengatasinya ??? Apakah cukup hanya dengan hukum saja???
Menurut saya hukum saja tidak cukup, karena hukum pun sebenarnya juga dapat dibeli. Buktinya Gayus juga tetap dapat vonis bebas beberapa waktu lalu. Sebaiknya para aparat negara harus lebih banyak bersyukur terhadap berbagai fasilitas yang dimilikinya. Jika mau dibandingkan, gaji Gayus ternyata lebih besar 4 kali lipat dibanding dengan pegawai negeri golongan III A yang biasanya. Dengan gaji yang cukup besar tersebut, Gayus hendaknya lebih bijak dalam mengelolanya. Dengan demikian rezeki tersebut menjadi rezeki yang lebih barokah. Daripada jumlah miliaran rupiah yang didapat, ternyata menimbulkan berbagai dampak negatif bagi seluruh keluarganya. Sungguh besar sekali manfaatnya jika hal ini dapat terjadi para aparat negara kita. Dengan adanya kepercayaan besar yang diberikan oleh masyarakat, para aparat negara hendaknya menjaganya demi kelangsungan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Sekali lagi saya katakan bahwa membangun kepercayaan merupakan hal yang sulit dan butuh kesabaran, sedangkan untuk merusak kepercayaan merupakan hal yang singkat dan mudah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar