Jumat, 16 April 2010

Etika Tradisional yang Semakin Tertinggal

Berkembangnya zaman dan kemajuan teknologi, nampaknya perlahan-lahan mulai menggeser nilai –nilai tradisional yang selama ini kita pegang teguh. Banyak yang menganggap bahwa saat ini adalah era teknologi dimana semua hal bisa dilakukan secara cepat dan mudah. Namun pada akhirnya segala kemudahan tersebut akan membuat kita lupa akan bagaimana proses menuju hal yang kita inginkan tersebut. Seperti yang kita tahu, bahwa sesuatu tidak hanya dinilai dari hasil akhir namun juga bagaimana proses mencapainya. Berikut ini akan kita uraikan beberapa contoh mengenai hal – hal yang menggeser nilai etika tradisional yang kita miliki.

A. Wayang VS Bioskop
Bagi masyarakat Jawa, kesenian Wayang nampaknya sudah tidak asing lagi. Wayang yang biasanya dari kulit binatang, rumput, atau kayu merupakan kesenian wajib bagi masyarakat Jawa.
Wayang bukan hanya sekedar tontonan tetapi juga tuntunan dalam kehidupan untuk mencapai kebahagiaan baik di dunia maupun di akherat dalam tingkat kesempurnaan abadi, sehingga tokoh-tokoh di pewayangan di identikkan dengan sifat-sifat manusia dan alam didalam kehidupan sehari-harinya.
Dalam cerita pewayangan banyak ditemukan falsafah-falsafah hidup dan sering dijadikan kajian ilmiah oleh peneliti-peneliti dan Mahasiswa-mahasiswa baik didalam maupun diluar negeri, belajar dan mendalami wayang di Indonesia.
Dunia mengakui wayang sebagai master piece (master perdamaian) karya budaya bangsa Indonesia yang mendapat predikat ” THE ORAL AND INTANGIBLE WORLD HERITAGE OF HUMANITY ” oleh PBB melalui UNESCO.
Jika dikaji secara cermat dan mendalam, semua cerita pewayangan mengandung makna filosufis yang sangat berarti bagi kehidupan manusia yaitu menunjukkan arah yang benar mengenai kebenaran yang hakiki.
Namun sekarang Wayang sebagai hiburan serasa mulai bergeser oleh adanya Bioskop. Yang lebih banyak menyuguhkan cerita – cerita yang bersifat fiksi. Dari cerita yang disuguhkan tersebut, lebih banyak memberikan khayalan belaka daripada memberi tuntunan kepada para pemirsanya
Tentu saja teknologi yang digunakan di bioskop sangat canggih bila dibandingkan dengan teknologi yang digunakan pada pertunjukan Wayang. Di bioskop kita melihat banyak efek-efek komputer untuk mendramatisir keadaan yang sebenarnya. Sedangkan pada pertunjukan Wayang masih menggunakan peralatan tradisional dan lebih menggunakan segala sesuatu yang telah ada, seperti sound system dan lampu sorot. Tentunya hal tersebut tidak mengurangi esensi dari pertunjukan Wayang itu sendiri
Di bioskop kita biasanya akan asyik menikmati film tersebut secara individu, tanpa peduli dengan orang – orang di sekitar kita. Namun berbeda saat menonton Wayang, pada saat itu semua kalangan berkumpul dan bercengkeram seolah-olah tanpa ada batasan diantara para penontonnya. Disitulah letak nilai sosialnya, dimana dari suatu tontonan akan merekatkan kerukunan para penontonnya.




B. Pasar Tradisional VS Supermarket

Sejak zaman dahulu keberadaan pasar memang mutlak diperlukan di suatu daerah. Pasar sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli serta masyarakat dengan berbagai kebutuhannya.
Pasar tradisional sendiri merupakan pasar yang menyediakan kebutuhan hidup sehari-hari tentunya dengan harga yang ”miring” untuk kalangan rumah tangga.
Permasalahan segera timbul tatkala supermarket sedikit demi sedikit mulai menggerus keberadaan pasar tradisional. Dengan kondisi dan suasana belanja yang lebih bersih, nyaman, serta segala yang diperlukan ada di sana, membuat orang cenderung untuk meninggalkan pasar tradisional. Di sisi lain, makin lama barang – barang yang diperjualbelikan di supermarket dan pasar tradisional pun hampir mirip. Bahkan harganya pun cenderung bersaing dengan pedagang di pasar tradisional. Dan bahkan pada beberapa kasus harga di supermarket jauh lebih murah.
Selain itu teknologi di supermarket pun juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para konsumen. Seperti penggunaan barcode untuk mengetahui harga barang dan kemudahan pembayaran melalui kartu kredit maupun kartu debet. Sehingga proses pembayaran berlangsung cepat dan mudah. Sedangkan di pasar tradisional semua teknologi yang digunakan masih berbasis ”manual”. Semua berdasarkan pada pelayanan dari si penjual pasar tradisional.
Namun demikian, dengan berbagai kelebihan yang dimiliki oleh supermarket. Tetap saja ada suatu ”nilai lebih” dari pasar tradisional yang tidak bisa dimiliki oleh supermarket. Yaitu hubungan interpersonal antara pengunjung dan penghuni pasar. Hubungan antara keduanya tidak hanya sekedar penjual dan pembeli. Namun lebih ke arah dua individu yang saling membutuhkan. Sehingga tercipta rasa saling menghargai dan menghormati. Serta senyuman yang diberikan dari keduanya pun benar – benar tulus, tanpa ada paksaan maupun atas dasar tuntutan pekerjaan.
Berbeda dengan pasar tradisional, di supermarket para pengunjung pun hanya bisa memilih barang dan membeli. Tidak ada sesuatu yang ”lebih” dari proses tersebut. Sehingga dapat dikatakan ” Buy It and Leave It”.

Selasa, 30 Maret 2010

Gayus oh Gayus

Gayus Tambunan : Suatu kepercayaan yang disalahgunakan


Akhir-akhir ini media gencar memberitakan tentang sebuah nama yang ramai dibicarakan public. Dialah Gayus H.P. Tambunan, seorang pegawai kantor pajak golongan III A yang memiliki saldo sebesar Rp25 M di rekeningnya. Suatu hal yang sangat mustahil bagi pegawai negeri sipil (PNS), yang gajinya “hanya” Rp 12 juta per bulan. Bagaimana seorang PNS golongan IIIA tersebut dapat mengumpulkan Rp 25 M ? Mengingat usianya masih berumur 30 tahunan.
Banyak muncul perdebatan publik mengenai darimana asal dana tersebut. Apakah mungkin dari warisan orang tua Gayus? Tentu tidak, melihat kondisi rumah yang ditempati oleh orang tua Gayus. Karena kondisi fisik dari rumah tersebut masih jauh dari disebut layak. Cat rumahnya sudah terkelupas, sehingga tidak jelas apa warna rumah yang sebenarnya. Pintunya yang dari kayu triplek pun juga demikian, sangat jelas menunjukkan kondisi keluarga yang dapat dibilang biasa saja.
Dugaan sementara dari banyak pihak mengatakan bahwa Gayus menerima suap dari para pengusaha pengemplang pajak yang menginginkan agar dapat membayar pajak dalam jumlah yang minim. Hingga saat ini para penegak hukum masih memburu Gayus yang kabarnya masih berada di Singapura.untuk menjalani pengobatan.
Sebenarnya jika mau dibandingkan dengan aliran dana yang hilang dari kasus Century, jumlah yang dibawa Gayus “belum” berarti apa-apa. Tetapi dampak yang ditimbulkan dari peristiwa tersebut sungguh luar biasa. Dari berbagai forum yang saya ikuti perkembangannya di internet, banyak para wajib pajak yang mulai merasa kehilangan kepercayaannya terhadap institusi pajak. Para wajib pajak merasa sia-sia saja untuk membayar pajak jika pada akhirnya pajak yang mereka bayarkan ternyata hanya masuk ke kantong-kantong yang tiada jelas pemanfaatannya. Sampai-sampai para wajib pajak mengira semua pegawai pajak adalah mafia. Hingga akhirnya muncul berbagai account Facebook yang menyatakan tidak semua pegawai pajak sama seperti Gayus. Dan langkah tersebut juga didukung oleh banyak pegawai pajak yang merasa dirugikan.
Pajak yang kabarnya merupakan salah satu pemasukan terbesar negara ternyata disalahgunakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Dan pada akhirnya, kembali lagi rakyat kalangan bawah yang menjadi korban utamanya. Sedangkan untuk mengembalikan suatu kepercayaan yang telah didapat tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan usaha yang keras selama bertahun-tahun untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam membayar pajak serta pemanfaatannya dalam pembangunan Indonesia. Jika pada akhirnya kepercayaan yang diberikan tersebut disalahgunakan untuk kepentingan pribadi semata.
Melihat dari kasus tersebut, sebenarnya tidak ada yang patut disalahkan. Karena kesalahan yang sebenarnya tidak hanya menjadi tanggung jawab Gayus semata. Tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh institusi yang berkaitan. Tidak mungkin Gayus akan berbuat demikian jika tidak ada kesempatan serta situasi yang mendukung. Dan ternyata situasi pun berkata demikian, banyak diantara para Jenderal di Dirjen POLRI yang juga turut disebut-sebut dalam kasus penggelapan pajak oleh Gayus.
Walaupun Gayus telah tertangkap di Singapura beberapa waktu lalu, hal tersebut masih dirasa kurang sreg bagi para wajib pajak tentang terberantasnya mafia pajak. Karena banyak pihak sepakat bahwa Gayus hanya sebuah wayangnya sedangkan dalangnya masih ada di atas sana.
Lalu bagaimana mengatasinya ??? Apakah cukup hanya dengan hukum saja???
Menurut saya hukum saja tidak cukup, karena hukum pun sebenarnya juga dapat dibeli. Buktinya Gayus juga tetap dapat vonis bebas beberapa waktu lalu. Sebaiknya para aparat negara harus lebih banyak bersyukur terhadap berbagai fasilitas yang dimilikinya. Jika mau dibandingkan, gaji Gayus ternyata lebih besar 4 kali lipat dibanding dengan pegawai negeri golongan III A yang biasanya. Dengan gaji yang cukup besar tersebut, Gayus hendaknya lebih bijak dalam mengelolanya. Dengan demikian rezeki tersebut menjadi rezeki yang lebih barokah. Daripada jumlah miliaran rupiah yang didapat, ternyata menimbulkan berbagai dampak negatif bagi seluruh keluarganya. Sungguh besar sekali manfaatnya jika hal ini dapat terjadi para aparat negara kita. Dengan adanya kepercayaan besar yang diberikan oleh masyarakat, para aparat negara hendaknya menjaganya demi kelangsungan kehidupan bermasyarakat dan bernegara.
Sekali lagi saya katakan bahwa membangun kepercayaan merupakan hal yang sulit dan butuh kesabaran, sedangkan untuk merusak kepercayaan merupakan hal yang singkat dan mudah.